Oleh Ruli Alqodri Mustafa.
Founder The TwinsPrime Group. Cilegon Banten.
Di zaman ketika segala sesuatu diukur dengan angka, grafik, algoritma, dan kecerdasan buatan, ada satu kelompok ilmu yang sering dipandang sebelah mata: humaniora.
Kalau seorang mahasiswa berkata ia kuliah di Teknik Informatika, orang akan mengangguk kagum. Kalau ia kuliah di Kedokteran, keluarga besar langsung membayangkan masa depan cerah. Tapi ketika seseorang berkata ia belajar filsafat, sastra, sejarah, atau antropologi, respons yang muncul sering kali hanya satu:
"Kerjanya nanti apa?"
Pertanyaan itu begitu populer hingga pantas diabadikan sebagai warisan budaya tak benda.
Padahal, jika dipikir-pikir, banyak persoalan besar di dunia justru muncul bukan karena manusia kekurangan teknologi, melainkan karena kekurangan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi.
Kita hidup di era ketika manusia mampu mengirim wahana ke planet lain, tetapi masih ribut karena perbedaan pilihan politik. Kita bisa membuat robot yang berbicara, tetapi sering gagal berbicara baik-baik dengan tetangga sendiri. Kita mampu menciptakan kecerdasan buatan, namun belum tentu mampu menciptakan kecerdasan sosial. Di sinilah humaniora mengambil peran.
Ilmu yang Mengajarkan Menjadi Manusia
Humaniora pada dasarnya mempelajari manusia dalam segala kompleksitasnya. Bukan hanya apa yang dilakukan manusia, tetapi juga mengapa mereka melakukannya.
Ilmu ini mencakup sastra, bahasa, filsafat, sejarah, arkeologi, seni, dan budaya. Semua bidang tersebut berusaha memahami akal budi, nilai, keyakinan, imajinasi, serta pengalaman hidup manusia.
Kalau ilmu alam bertanya, "Bagaimana sesuatu terjadi?", maka humaniora bertanya, "Apa maknanya?"
Kalau ilmu teknik berusaha membuat jembatan yang kuat, humaniora mengajarkan mengapa jembatan itu harus digunakan untuk menyatukan manusia, bukan memisahkan mereka.
Perbedaannya memang terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.
Dunia Tidak Kekurangan Orang Pintar
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban sering kali runtuh bukan karena kekurangan ilmuwan, melainkan karena kekurangan kebijaksanaan.
Kita memiliki banyak orang cerdas yang mampu menghitung keuntungan bisnis hingga belasan digit. Namun belum tentu mereka mampu menghitung dampak sosial dari keputusan yang mereka buat.
Kita mempunyai teknologi komunikasi paling canggih sepanjang sejarah, tetapi tingkat pertengkaran di media sosial justru semakin tinggi.
Semakin cepat internet bekerja, semakin lambat sebagian orang berpikir sebelum mengetik.Ironis, bukan?
Kemajuan teknologi ternyata tidak otomatis menghasilkan kematangan berpikir.
Di sinilah filsafat mengajarkan logika, sejarah mengingatkan kesalahan masa lalu, sastra melatih empati, dan seni membantu manusia memahami keindahan hidup yang tidak dapat diukur dengan kalkulator.
Humaniora dan Penyakit "Asal Viral"
Salah satu penyakit sosial abad ke-21 adalah kecenderungan menganggap sesuatu benar hanya karena viral.
Banyak orang membaca judul tanpa membaca isi. Banyak yang membagikan informasi tanpa memeriksa sumber. Bahkan ada yang berdebat dengan penuh keyakinan mengenai topik yang baru diketahuinya lima menit sebelumnya. Fenomena ini melahirkan spesies baru yang cukup unik: "sarjana kolom komentar."
Humaniora melatih kemampuan berpikir kritis agar seseorang tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan. Ia mengajarkan bahwa setiap informasi perlu diuji, setiap argumen perlu diperiksa, dan setiap keyakinan layak dipertanyakan. Bukan untuk menjadi pembangkang, melainkan agar tidak mudah menjadi korban pembodohan.
Humaniora versus Ilmu Sosial
Banyak orang menganggap humaniora dan ilmu sosial sama. Padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda.
Ilmu sosial berusaha menjelaskan perilaku masyarakat secara empiris melalui data, survei, dan observasi. Humaniora lebih banyak mengkaji makna, nilai, simbol, keyakinan, dan ekspresi budaya manusia.
Sederhananya, jika seorang sosiolog meneliti mengapa masyarakat terbelah karena politik, maka seorang filsuf akan bertanya mengapa manusia begitu mudah membenci sesamanya hanya karena berbeda pilihan. Keduanya harus saling melengkapi. Yang satu menjelaskan gejalanya, yang lain mencoba memahami jiwanya.
Jurusan yang Tidak Menjanjikan?
Ada anggapan bahwa lulusan humaniora sulit mencari pekerjaan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Yang sering terjadi justru sebaliknya: dunia kerja membutuhkan kemampuan yang diajarkan humaniora, tetapi tidak selalu menyadarinya.
Perusahaan mencari orang yang mampu berkomunikasi, bernegosiasi, memahami budaya, menyelesaikan konflik, berpikir kreatif, dan menganalisis masalah yang rumit.Menariknya, semua itu adalah keterampilan utama yang dipelajari dalam humaniora.
Di era kecerdasan buatan, kemampuan menghafal mungkin bisa digantikan mesin. Namun kemampuan memahami emosi manusia, membaca konteks budaya, dan membuat pertimbangan etis masih menjadi wilayah yang sulit ditiru algoritma. Robot mungkin bisa menulis puisi.Tetapi memahami patah hati yang melahirkan puisi itu adalah urusan lain.
Menyelamatkan Kemanusiaan
Pada akhirnya, humaniora bukan sekadar kumpulan mata kuliah yang penuh teori. Ia adalah upaya menjaga agar manusia tetap menjadi manusia.
Sebab peradaban yang hanya mengejar kemajuan teknologi tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan ibarat mobil balap tanpa rem. Mungkin melaju sangat cepat, tetapi tidak ada yang tahu akan menabrak apa.
Kita membutuhkan insinyur untuk membangun gedung. Kita membutuhkan dokter untuk menyembuhkan penyakit. Kita membutuhkan ekonom untuk mengelola keuangan.
Namun kita juga membutuhkan sejarawan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, filsuf agar tidak kehilangan arah, sastrawan agar tidak kehilangan empati, dan seniman agar hidup tidak berubah menjadi sekadar angka-angka statistik.
Karena pada akhirnya, tujuan peradaban bukan hanya menciptakan manusia yang pintar. Melainkan menciptakan manusia yang bijak.
Dan di situlah humaniora menjalankan tugasnya yang paling penting: mengingatkan bahwa di balik semua teknologi, data, dan kecerdasan buatan, masih ada sesuatu yang lebih berharga daripada semuanya. Yaitu kemanusiaan itu sendiri.